Kamis, 22 Desember 2016

perkembangan intelektual anak usia sd


Menurut F.J. Monks, dkk, pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali.


Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri dan kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke  tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, memalui suatu bentuk/tahap kebentuk tahap yang berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kemampuan.[1]
Perkembangan juga berkaitan dengan belajar khususnya mengenai isi proses perkembangan: apa yang berkembang berkaitan dengan perilaku belajar.[2]

A.  Pengertian Perkembangan Intelektual
Intelektual atau intelegensi berasal dari bahsa latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Menurut panitia istilah pedagogis (1953) yang mengangkat pendapat stern, yang dimaksud dengan intelektual adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru mengunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya.
Terman memberikan pengertian intelektual sebagai “ the ability to carry on abstract thinking”. Terman membedakan adanya ability yang berkaitan dengan hal-hal konkret dan abstrack. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berfikir abstrack, individu yang bersangkutan intelektualitasnya kurang.[3]

B.  Perkembangan Intelektual Anak SD
Pada usia sekolah dasar anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif. Beberapa perkembangan menurut piaget :
1.      Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget anak usia antara 5-7 tahun memasuki tahap operasi konkret (concrete operations) yaitu pada waktu anak dapat berikir secara logik mengenai segala sesuatu. Pada umumnya mereka pada tahap ini sampai kira-kira II tahun.
2.       Berpikir Operasional
Melakukan berbagai bentuk operasional yaitu kemampuan aktivitas mental sebagai kebalikan dari aktivitas jasmani. Pada tahap operasionak konkret anak-anak sudah mulai bekerja denga angka-angka, mengetahui konsep-konsep waktu dan ruang dan dapat membedakan kenyataan dengan hal-hal yang bersifat fantasi.
Anak-anak usia sekolah lebih dapat berpikir secara logik dari pada waktu mereka masih muda. Menurut Piaget seorang anak pada periode perkembangan inintelah mampu menggunakan simbol” untuk melakukan sesuatu.
Pada periode berpikir ini pula anak-anak mulai mampu melakukan “Perpisahan mereka memperhitungkan berbagai aspek yang ada sebelum mengambil suatu kesimpulan dan tidak lagi hanya terpukau kepada satu aspek saja seperti pada pemikiran praoperasional. Mereka meningkatkan pengertian bahwa adanya sudut pandangan orang lain memungkinkan mereka untuk berkomunikasi secara efektif dan memungkinkan mereka untuk bersikap  lebih luwes  dalam sikap moral mereka.

3.      Konservasi
Konservasi adalah salah satu kemampuan yang penting yang dapat mengembangkan berbagai opemasi pada tahap konkret. Dengan kata lain konservasi adalah kemampuan untuk mengenal atau mengetahui bahwa dua bilangan yang sama akan tetap sama dalam substansi berat atau volume selama tidak ditambah atau dikurangi.
Anak pada usia sekolah dasar sudah mampu melakukan konservasi karena sudah memahami konsep bolak-balik (reversibility) konsep bahwa ia dapat mengembalikan benda kebentuknya yang semula tanpa (ditambah atau dikurangi).
Menurut Piaget, kemampuan konservasi di mungkinkan untuk berkembang jika sistem syaraf sudah cukup matang dan mendukung kemampuan.
Selain itu anak dapat melakukan konservasi adalah anak yang nilai rapornya lebih tinggi, IQ nya tinggi kemampuan verbalnya baik, dan ibu yang aktif jadi, disini tampaklah suatu peningkatan kualitatif cara berpikir anak.
4.      Seriasi (Runtunan)
Seriasi juga adalah satu ciri perkembangan kognitif anak usia sekolah, yaitu memahami suatu seri posisi, seriasi ini juga berlaku untuk berbagai dimensi, yaitu dimensi tinggi, panjang atau ukuran, Artinya anak usia SD mampu menyusun benda mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.  
5.      Klasifikasi dari Obyek-obyek
Yaitu kemampuan untuk memilih sub kelompok.[4]
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikanya berbagai kecakapan yng dapat mengembangkan pola piker atau daya nalarnya. Untuk mengembangkan daya nalarnya, daya cipta,kreatifitas anak maka anak perlu diberi peluang-peluang untuk bertanya berpendapat atau menilai tentang berbagai hal tentang pelajaran atau peristiwa yang terjadi di lingkungan.
Upaya lain yang dapat dilakukan sekolah dalam mengembangkan kreatifitas anak adalah dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti lomba mengarang, menggambar dan menyanyi.[5]

C.     Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual Anak Usia SD
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek peserta didik usia SD atau MI, antara lain:
1.      Kondisi organ penginderaan sebagai saluran yang dilalui pesan indera dalam perjalanannya ke otak (kesadaran).
2.      Intelegensi mempengaruhi kemampuan anak untuk mengerti dan memahami sesuatu.
3.      Kesempatan belajar yang diperoleh anak.
4.      Tipe pengalaman yang didapat anak secara langsung akan berbeda jika anak mendapat pengalaman seara tidak langsung dari orang lain atau informasi dari buku.
5.      Jenis kelamin karena pembentukan konsep anak laki-laki atau perempuan telah dilatih sejak kecil dengan cara yang sesuai dengan jenis kelamin.
6.      Kepribadian pada anak dalam memandang kehidupan dan menggunakan suatu kerangka acuan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan.[6]

D.  Pengertian Perasaan
Menurut chaplin, perasaan adalah keadaan atau state individu sebagai akibat dari persepsi sebagai akibat stimulus baik internal maupun eksternal. Adapun emosi merupakan reaksi kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmanian serta berkaitan dengan perasan yang lebih kuat. Karena itu emosi lebih intens daripada perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku, hubungan dengan lingkungan kadang-kadang terganggu.[7]

E.   Perkembangan Perasaan Anak Usia SD
Pada usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima. Oleh karena itu, dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperolehnya melalui peniruan dan latihan (pembiasaan).
Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua atau guru dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang emosionalnya stabil, maka perkembangan emosi anak juga akan cenderung stabil, namun apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil, maka perkembangan emosi anak juga cenderung kurang stabil.
Karakteristik emosi anak


[1] Desmita, Psikologi Perkemanbangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008, cet ke 4,  Hal.4.
[2] Siti rahayu haditono,dkk, psikologi perkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada University, 2006,cet ke16,hal.2.
[3] Yudrik tjahja,Psikologi perkembangan . . . , hal 43.
[5]Elizabeth b Hurlock. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.hal.127.
[7] Yudrik tjahja,Psikologi perkembangan . . . , hal.61.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Offer Products

SHARETHIS

Tiny Star