Menurut F.J. Monks, dkk, pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali.
Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk
dan ciri-ciri dan kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang
sederhana ke tahap yang lebih tinggi.
Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, memalui suatu
bentuk/tahap kebentuk tahap yang berikutnya, yang kian hari kian bertambah
maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kemampuan.[1]
Perkembangan juga berkaitan dengan
belajar khususnya mengenai isi proses perkembangan: apa yang berkembang
berkaitan dengan perilaku belajar.[2]
A. Pengertian
Perkembangan Intelektual
Intelektual atau intelegensi berasal
dari bahsa latin intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau
menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together).
Menurut panitia istilah pedagogis (1953) yang mengangkat pendapat stern, yang
dimaksud dengan intelektual adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru
mengunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya.
Terman memberikan pengertian intelektual
sebagai “ the ability to carry on abstract thinking”. Terman membedakan adanya
ability yang berkaitan dengan hal-hal konkret dan abstrack. Ini berarti bahwa
apabila individu kurang mampu berfikir abstrack, individu yang bersangkutan
intelektualitasnya kurang.[3]
B. Perkembangan
Intelektual Anak SD
Pada
usia sekolah dasar anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau
melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau
kemampuan kognitif. Beberapa perkembangan menurut piaget :
1. Perkembangan Kognitif
Menurut
Piaget anak usia antara 5-7 tahun memasuki tahap operasi konkret (concrete
operations) yaitu pada waktu anak dapat berikir secara logik mengenai segala
sesuatu. Pada umumnya mereka pada tahap ini sampai kira-kira II tahun.
2. Berpikir Operasional
Melakukan
berbagai bentuk operasional yaitu kemampuan aktivitas mental sebagai kebalikan
dari aktivitas jasmani. Pada tahap operasionak konkret anak-anak sudah mulai
bekerja denga angka-angka, mengetahui konsep-konsep waktu dan ruang dan dapat
membedakan kenyataan dengan hal-hal yang bersifat fantasi.
Anak-anak
usia sekolah lebih dapat berpikir secara logik dari pada waktu mereka masih
muda. Menurut Piaget seorang anak pada periode perkembangan inintelah mampu menggunakan simbol”
untuk melakukan sesuatu.
Pada
periode berpikir ini pula anak-anak mulai mampu melakukan “Perpisahan mereka
memperhitungkan berbagai aspek yang ada sebelum mengambil suatu kesimpulan dan
tidak lagi hanya terpukau kepada satu aspek saja seperti pada pemikiran
praoperasional. Mereka meningkatkan pengertian bahwa adanya sudut pandangan
orang lain memungkinkan mereka untuk berkomunikasi secara efektif dan
memungkinkan mereka untuk bersikap lebih luwes dalam sikap moral
mereka.
3. Konservasi
Konservasi
adalah salah satu kemampuan yang penting yang dapat mengembangkan berbagai
opemasi pada tahap konkret. Dengan kata lain konservasi adalah kemampuan untuk
mengenal atau mengetahui bahwa dua bilangan yang sama akan tetap sama dalam
substansi berat atau volume selama tidak ditambah atau dikurangi.
Anak
pada usia sekolah dasar sudah mampu melakukan konservasi karena sudah memahami
konsep bolak-balik (reversibility) konsep bahwa ia dapat mengembalikan benda
kebentuknya yang semula tanpa (ditambah atau dikurangi).
Menurut
Piaget, kemampuan konservasi di mungkinkan untuk berkembang jika sistem syaraf
sudah cukup matang dan mendukung kemampuan.
Selain
itu anak dapat melakukan konservasi adalah anak yang nilai rapornya lebih
tinggi, IQ nya tinggi kemampuan verbalnya baik, dan ibu yang aktif jadi, disini
tampaklah suatu peningkatan kualitatif cara berpikir anak.
4. Seriasi (Runtunan)
Seriasi
juga adalah satu ciri perkembangan kognitif anak usia sekolah, yaitu memahami
suatu seri posisi, seriasi ini juga berlaku untuk berbagai dimensi, yaitu
dimensi tinggi, panjang atau ukuran, Artinya anak usia SD mampu menyusun benda
mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.
5. Klasifikasi dari Obyek-obyek
Yaitu
kemampuan untuk memilih sub kelompok.[4]
Kemampuan
intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikanya berbagai
kecakapan yng dapat mengembangkan pola piker atau daya nalarnya. Untuk mengembangkan
daya nalarnya, daya cipta,kreatifitas anak maka anak perlu diberi
peluang-peluang untuk bertanya berpendapat atau menilai tentang berbagai hal
tentang pelajaran atau peristiwa yang terjadi di lingkungan.
Upaya
lain yang dapat dilakukan sekolah dalam mengembangkan kreatifitas anak adalah
dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti lomba mengarang, menggambar
dan menyanyi.[5]
C.
Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual Anak
Usia SD
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan intelek peserta didik usia SD atau MI, antara lain:
1. Kondisi
organ penginderaan sebagai saluran yang dilalui pesan indera dalam
perjalanannya ke otak (kesadaran).
2. Intelegensi
mempengaruhi kemampuan anak untuk mengerti dan memahami sesuatu.
3. Kesempatan
belajar yang diperoleh anak.
4. Tipe
pengalaman yang didapat anak secara langsung akan berbeda jika anak mendapat
pengalaman seara tidak langsung dari orang lain atau informasi dari buku.
5. Jenis
kelamin karena pembentukan konsep anak laki-laki atau perempuan telah dilatih
sejak kecil dengan cara yang sesuai dengan jenis kelamin.
6. Kepribadian
pada anak dalam memandang kehidupan dan menggunakan suatu kerangka acuan
berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan.[6]
D. Pengertian Perasaan
Menurut chaplin, perasaan adalah keadaan
atau state individu sebagai akibat dari persepsi sebagai akibat stimulus baik
internal maupun eksternal. Adapun emosi merupakan reaksi kompleks yang
mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam
kejasmanian serta berkaitan dengan perasan yang lebih kuat. Karena itu emosi
lebih intens daripada perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku, hubungan
dengan lingkungan kadang-kadang terganggu.[7]
E.
Perkembangan
Perasaan Anak Usia SD
Pada usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan
emosi secara kasar tidaklah diterima. Oleh karena itu, dia mulai belajar untuk
mengendalikan dan mengontrol emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperolehnya
melalui peniruan dan latihan (pembiasaan).
Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua atau guru dalam
mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam
lingkungan keluarga yang emosionalnya stabil, maka perkembangan emosi anak juga
akan cenderung stabil, namun apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan
emosinya kurang stabil, maka perkembangan emosi anak juga cenderung kurang
stabil.
Karakteristik emosi anak
[2] Siti rahayu haditono,dkk, psikologi perkembangan, Yogyakarta:
Gadjah Mada University, 2006,cet ke16,hal.2.
[3]
Yudrik tjahja,Psikologi perkembangan
. . . , hal 43.
[4] http://makalahplus.blogspot.co.id/2013/12/perkembangan-intelektual-dan-emosional-anak-usia-sekolah-dasar.html. diakses pada tanggal 1 november
2016.pukul 08.16 wib
[6] http://makalahplus.blogspot.co.id/2013/12/perkembangan-intelektual-dan-emosional-anak-usia-sekolah-dasar.html. diakses pada tanggal 1 november
2016.pukul 08.16 wib
[7]
Yudrik tjahja,Psikologi perkembangan
. . . , hal.61.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar